Presiden Perawat Stoma : “Saya belum berkontribusi banyak untuk Ostomate Indonesia”

Mengikuti Program InETNEP 2011 menjadi pengalaman berkesan bagi saya. Bagaimana tidak, tahun tersebut merupakan tahun akreditasi program InETNEP Wocare Centre Bogor, yang akhirnya memberikan kesepatan kepada saya berguru langsung oleh Mrs.Carmen Gorge ET Nurses asal Australia yang diutus oleh WCET. Pesan yang menjadi dasar tumbuhnya tekad saya saat itu adalah ketika Carmen menjelaskan kepada saya bahwa “mengikuti InETNEP bukan hanya untuk mendapatkan penambahan pengetahuan tetapi setelah program ini selesai maka kamu wajib merawat ostomate dengan komplikasi luka ataupun inkontinensia, itu namanya The REAL ET Nurses”. Atas kalimat itulah yang menjadikan dasar saya untuk peduli terhadap ostomate dan mendedikasikan diri untuk kualitas hidup ostomate.

Sejak tahun 2012 saya bersama ET Nurses Kalimantan mengadakan seminar amal stoma yang menghasilkan 773 stoma bag untuk ostomate sekalimantan. Program seminar amal ini masih dilakukan sampai sekarang dengan harapan wilayah yang melakukan seminar bisa mensejahterakan ostomate diwilayah mereka. Saya dengan stoma nurses bersama sama melakukan seminar amal disetiap daerah diindonesia dengan tujuan pengadaan kantong gratis, diantaranya Makassar, Medan, Pontianak, Jakarta, Bogor, dan Samarinda. dan sampai saat ini saya masih mencoba untuk mengajak perawat perawat disemua daerah untuk melakukan hal yang sama. Hal lain yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan stomabag yaitu dengan melakukan kerjasama kepada product penyedia stomabag dengan melakukan mou harga amal sebesar Rp. 25.000/bag.

Diberikan amanah menjadi presiden grup stoma nurses ostomate Indonesia (SOS Indonesia) pada kongres ASSR/ASPOA di Vietnam pada tahun 2014 merupakan amanah yang sangat besar tanggung jawabnya untuk kualitas layanan stomacare dan kesejahteraan ostomate di Indonesia. Ketika ditanya, apa yang sudah saya lakukan kepada ostomate Indonesia?. Beliau menjawab “saya belum berkontribusi banyak untuk ostomate Indonesia. seminar amal memang menghasilkan banyak kantong tapi kemudian akan habis begitu saja. sedangkan harga amal dua puluh lima ribu juga menjadi masalah bagi mereka yang benar benar tidak mampu”. Konsep yang akan disusun untuk peningkatan kesejahteraan ostomate yaitu ostomatentrepreuner, merupakan konsep memandirikan ostomate agar memiliki kemampuan untuk berbisnis dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki agar nantinya ostomate memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Selain kantong, masalah yang juga dimiliki Indonesia perawatan stoma yaitu tidak sebandingnya ketersediaan perawat yang memiliki kompetensi stoma. Berdasarkan data, jumlah stomanurses di Indonesia tidak lebih dari 300 stomanurses, sedangkan jumlah RS di Indonesia mencapai kurang lebih 2500 RS, artinya kebutuhan di RS akan stomanurses sangat tinggi tetapi minat untuk memiliki kompetensi ini masih rendah. Hal ini juga menjadi penyulit bagi kami untuk meningkatkan kualitas hidup ostomate. Perawat general belum memiliki kompetensi terkait kebutuhan ostomate baik itu edukasi difase pre operative, fase post operative ataupun rehabilitative. Jadi hal yang seharusnya dilakukan untuk profesi kita yaitu meningkatkan kompetensi stoma dengan mengikuti sertifikasi perawatan stoma, agar makin banyak ostomate terlayani dengan standar yang sama. Semoga makin tinggi minat perawat mengikuti program pendidikan berkelanjutan terkait stoma agar mampu berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan perawatan stoma di Indonesia.

Stoma Sitting
Stoma Sitting

untuk dapatkan layanan perawatan stoma di kalimantan silahkan menghubungi WA +6285250575811

Video Stoma Sitting by Institute for Cancer Genetics and Informatics  http://bit.ly/2stomasitting

 

Tinggalkan Balasan